![]() |
| Dialog Jejak Budaya Panji di Barito Kuala membahas pelestarian budaya Bakumpai dan pengembangan Desa Wisata Suku Bakumpai. Foto/Ist |
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Barito Kuala H. Herman Susilo yang menyampaikan apresiasi atas sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat dalam upaya melestarikan kebudayaan daerah.
Menurutnya, dialog budaya tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap kekayaan seni dan tradisi lokal yang menjadi identitas daerah.
"Kebudayaan bukan sekadar warisan peninggalan masa lalu yang hanya kita pamerkan di museum atau dipentaskan dalam perayaan seremonial semata. Budaya adalah identitas, karakter, dan benteng moral bangsa. Semoga kegiatan ini semakin membuka wawasan kita dalam menjaga ragam seni budaya tradisional yang mulai tergerus zaman," ujar H. Herman Susilo.
Secara khusus, Wabup menyoroti keberadaan Suku Bakumpai sebagai salah satu pilar kebudayaan khas Barito Kuala yang kini menghadapi tantangan modernisasi. Ia mengaku prihatin melihat penggunaan bahasa daerah dan pelestarian adat Bakumpai yang mulai memudar di kalangan generasi muda.
Untuk menjaga identitas budaya tersebut, H. Herman Susilo mengusulkan pengembangan Desa Wisata Suku Bakumpai serta pembangunan museum daerah sebagai pusat pelestarian budaya.
"Saya tidak ingin Suku Bakumpai mengalami nasib tergerus zaman dan kehilangan identitasnya. Saya pribadi menginginkan adanya Desa Wisata Suku Bakumpai yang hidup, dimana setiap minggunya ada atraksi tarian, masakan khas, souvenir, permainan tradisional, hingga arsitektur rumah adat Bakumpai. Kami sudah mulai menjembatani aspirasi ini saat bertemu dengan Menteri Pariwisata, Bapak Fadli Zon, agar Barito Kuala bisa memiliki desa wisata berkarakter kuat," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Dr. Setia Budhi menjelaskan bahwa program pelestarian budaya tersebut merupakan hasil hibah dari Kementerian Kebudayaan RI yang disetujui sejak 2025 dan direalisasikan sepanjang 2026.
Ia menyebutkan dialog kali ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas perwakilan instansi pemerintah, guru pendamping, siswa SMP se-Kabupaten Barito Kuala, praktisi seni, serta komunitas Itah Uluh Bakumpai.
"Kegiatan hari ini merupakan rangkaian kedua setelah dilaksanakannya sosialisasi. Melalui dialog ini, kami mempertemukan para pemangku kepentingan dan narasumber untuk merumuskan langkah strategis pengembangan Budaya Panji di Kalimantan Selatan, khususnya di Barito Kuala," jelas Dr. Setia Budhi.
Ia menambahkan, puncak rangkaian fasilitasi Kementerian Kebudayaan dijadwalkan berlangsung pada September 2026 dengan mempertemukan tiga pusat Budaya Panji di Kalimantan Selatan, yakni Hulu Sungai Tengah, Banjar/Kota Banjarmasin, dan Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala sebagai tuan rumah.
Kegiatan Dialog Jejak Budaya Panji juga dimeriahkan dengan penampilan Tari Topeng dari Papikat Sei Getas. Hadir pula Kepala Disporbudpar Barito Kuala, perwakilan Taman Budaya Kalimantan Selatan, Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Selatan, akademisi FISIP ULM, Ketua Dewan Kesenian Daerah Barito Kuala, serta berbagai komunitas sastra dan budaya se-Kabupaten Barito Kuala. (Rilis/Diskominfo)
