Trending

Dissiptaka Barito Utara Pamerkan Al Quran Tulisan Tangan Berusia 156 Tahun

enampakan naskah Al Quran kuno tulisan tangan tahun 1870 koleksi Dissiptaka Barito Utara yang dipamerkan di Gedung Perpustakaan Daerah, (24/02/2026). Foto/IST

Muara Teweh
– Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka) Kabupaten Barito Utara menyelenggarakan pameran literatur sejarah berupa naskah-naskah kuno bernilai tinggi yang dipusatkan di Gedung Perpustakaan Daerah setempat mulai (24/02/2026). Eksibisi ini menampilkan berbagai dokumen otentik tulisan tangan masa lampau yang menjadi bukti nyata perkembangan peradaban, nilai budaya, serta kekayaan ilmu pengetahuan yang pernah tumbuh di wilayah Barito Utara. Melalui agenda ini, pemerintah daerah berupaya memperkuat perlindungan terhadap aset intelektual daerah sekaligus mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya menjaga warisan sejarah di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan.

Otoritas kearsipan daerah menekankan bahwa agenda yang berlangsung hingga pertengahan Maret ini bertujuan untuk membangkitkan kebanggaan kolektif terhadap identitas lokal di tengah arus modernisasi. Penyelenggara ingin memastikan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang utuh mengenai jejak literasi para pendahulu yang tertuang dalam naskah fisik yang sangat rentan. "Kegiatan ini untuk mengenalkan, melestarikan, dan mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda, mengenai nilai-nilai luhur, budaya, serta jati diri bangsa yang terkandung dalam warisan intelektual masa lalu," tutur Kepala Dissiptaka Barito Utara Fakhri Fauzi di Muara Teweh.

Koleksi utama yang menjadi pusat perhatian pengunjung adalah naskah Al Quran tulisan tangan karya H.M. Tasin yang dibuat pada tahun 1870 silam. Dokumen suci yang telah melintasi zaman selama 156 tahun tersebut menjadi bukti ketekunan ulama lokal dalam menyiarkan ajaran agama di wilayah Kalimantan. Selain itu, pameran ini juga menyajikan naskah khutbah bersejarah yang ditulis oleh tokoh-tokoh penting Muara Teweh pada medio 1933 dan sebelum 1943. Fakhri Fauzi mengungkapkan bahwa naskah khutbah karya H Abdul Aziz telah berumur 83 tahun, sementara naskah karya H Abdullah mencapai usia 93 tahun.

Pemerintah daerah kini tengah memacu proses alih media atau digitalisasi terhadap fisik dokumen yang mulai rapuh agar isinya tetap dapat dipelajari oleh para peneliti di masa mendatang tanpa merusak naskah asli. Langkah revolusioner ini dilakukan agar kekayaan sejarah Barito Utara dapat terdaftar secara nasional melalui portal Khastara Perpusnas RI. "Untuk Al Quran dalam proses alih media untuk didaftarkan ke Khastara Perpusnas RI," ucap Fakhri Fauzi menjelaskan mengenai status registrasi digital koleksi yang sedang dipamerkan tersebut guna mempermudah aksesibilitas data sejarah bagi dunia akademis secara global.

Masyarakat yang masih menyimpan dokumen bersejarah berusia minimal lima dekade diimbau untuk bersedia dikerjasamakan dalam proses digitalisasi demi keamanan data jangka panjang. Dissiptaka menjamin bahwa setelah proses pemindaian selesai, naskah fisik akan dikembalikan kepada pemilik dalam kondisi yang lebih terawat dan bersih. "Ini juga membuka peluang bagi para peneliti, akademisi, dan masyarakat umum untuk mempelajari, meneliti, dan memanfaatkan naskah kuno tanpa harus berkunjung langsung ke lokasi penyimpanannya," jelas Fakhri Fauzi lebih mendalam mengenai manfaat sistem kearsipan digital tersebut.

Sebagai penutup, seluruh aktivitas pameran ini merujuk pada amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang pentingnya penyelamatan dokumen kebudayaan nasional. Dissiptaka berharap eksibisi ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap benda-benda bersejarah yang ada di lingkungan keluarga masing-masing agar tidak punah dimakan usia. "Kegiatan ini berfungsi sebagai sarana apresiasi, sumber edukasi sejarah, dan upaya penyelamatan naskah dari kepunahan," pungkas Fakhri Fauzi mengakhiri penjelasannya (Jn).

Lebih baru Lebih lama